Senin, 20 Maret 2017


Higher Order Thinking Skills (HOTS) Dalam Pembelajaran Kimia

Berpikir adalah aktifitas mencurahkan daya pikir untuk maksud tertentu. Berpikir adalah identitas yang memisahkan status kemanusiaan manusia dengan lainnya. Karenanya sejauhmana manusia pantas disebut manusia dapat dibedakan dengan sejauhmana pula ia menggunakan pikirannya.
Keterampilan berpikir tingkat tinggi atau dikenal dengan istilah Higher Order Thingking Skills (HOTS) pada Taksonomi Bloom, merupakan urutan tingkatan berpikir (kognitif) dari tingkat rendah ke tinggi. Pada ranah kognitifnya, HOTS berada pada level analisis, sintesis dan evaluasi. HOTS pertama kali dimunculkan pada tahun 1990 dan direvisi tahun 1990 agar lebih relevan digunakan oleh dunia pendidikan abad ke-21. HOTS versi lama berupa kata benda yaitu: Pengetahuan, Pemahaman, Terapan, Analisis, Sintesis, Evaluasi. Sedangkan HOTS setelah direvisi menjadi kata kerja: Mengingat, Memahami, Menerapkan, Menganalisis, Mengevaluasi, dan Mencipta.
Adapun karakteristik-karakteristik dari HOTS:
1.   Evaluasi dengan kriteria
2.   Menunjukkan skeptisme
3.   Keputusan yang menggantung
4.   Menggunakan analisa logis
5.   Sistematis
Menurut Mustaji (2012), definisi berpikir masih diperdebatkan di kalangan pakar pendidikan. Diantara mereka masih terdapat pandangan yang berbeda-beda. Walaupun tafsiran itu berbeda-beda, namun umumnya para tokoh pemikir setuju bahwa pemikiran dapat dikaitkan dengan proses untuk membuat keputusan dan menyelesaikan masalah. Berpikir ialah proses menggunakan pikiran untuk mencari makna dan pemahaman terhadap sesuatu.
Menurut Krulik dan Rudnick (1999) di dalam artikel Idris Harta, keterampilan berfikir terdiri dari empat tingkat, yaitu menghafal (recall thinking), dasar (basic thinking), kritis (critical thinking), dan kreatif (creative thinking).
Keterampilan Menghafal hampir otomatis atau bersifat refleksif. Contoh dari keterampilan ini adalah menghafal perkalian (9x8=72) dan penjumlahan (7+3=10). Menghafal jalan menuju suatu tempat, menghafal sejarah nasional indonesia, juga termasuk dalam keterampilan ini.  Siswa, khususnya pada kelas awal, seringkali dipaksa menghafal fakta-fakta.
Keterampilan berikutnya adalah keterampilan dasar. Keterampilan ini mencakup konsep-konsep seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian, termasuk aplikasi dalam soal. Contoh dari konsep pembagian adalah jika diketahui harga 1 pak DVD berisi 100 keping adalah 90.000, siswa disuruh mencari harga satuan setiap keping DVD.
Berfikir kritis menurut Schafersman, S.D. (1991) di dalam Mustaji, adalah berpikir yang benar dalam rangka mengetahui secara relevan dan reliabel tentang dunia. Berpikir kritis, adalah berpikir beralasan, mencerminkan, bertanggungjawab, kemampuan berpikir, yang difokuskan pada pengambilan keputusan terhadap apa yang diyakini atau yang harus dilakukan. Berpikir kritis adalah berpikir mengajukan pertanyaan yang sesuai, mengumpulkan informasi yang relevan, mengurutkan informasi secara efisien dan kreatif, menalar secara logis, hingga sempat pada kesimpulan yang reliabel dan terpercaya.
Berpikir kreatif menurut Mustaji adalah berpikir secara konsisten dan terus-menerus menghasilkan sesuatu ang kreatif/orisinil sesuai dengan keperluan.
Menurut Krulik dan Rudnick (1999), di dalam artikel Idris Harta (2010), untuk mengembangkan berpikir kritis dan kreatif, diperlukan kegiatan-kegiatan lain yang dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa dalam bentuk menjawab pertanyaan-pertanyaan inovatif.


Contoh soal C4
1. Suatu logam dibiarkan di ruang terbuka dan berkontak dengan udara dan air. Logam ini akan mengalami perubahan secara perlahan. Bentuk fisik logam lama kelamaan berubah dan menjadi rapuh, sehingga mudah dipatahkan.  Biasanya akan terbentuk suatu senyawa yang tidak diinginkan. Untuk menghindari hal itu biasanya penggunaan pagar untuk desain eksterior dilapisi dengan cat. Jika logam tersebut adalah besi, senyawa yang tidak diinginkan yang mungkin terbentuk adalah…
a. Fe(OH)2
b. Fe2O
c.  Fe2O3.xH2O
d.  FeO3
e.   FeO2
Jawaban : C

2. Dalam dunia pertanian, banyak digunakan pupuk untuk menambah kualitas tanah. Salah satu jenis pupuk kimia adalah Pupuk ZA. Pupuk ini digunakan untuk menambah hara nitrogen dan sulfur untuk tanaman. ZA adalah singkatan dari istilah  zwavelzure ammoniak, yang berarti amonium sulfat (NH4SO4). Senyawa ini terdiri dari ion ammonium dan ion sulfat. Berapakah bilangan oksidasi untuk unsur belerang pada ion yang menyusun senyawa tersebut?
a.   +6
b.   6
c.   -6
d.   1
e.   -1
Jawaban : A


Contoh Soal C5
1.  Elektrolisis adalah rangkaian dua elektroda yang dicelupkan dalam larutan elektrolit yang dilengkapi sumber arus listrik. Electron mengalir dari anoda ke katoda. Elektrolisis dapat digunakan untuk memurnikan zat. Buatlah persamaan reaksi yang mungkin terjadi pada proses pemurnian logam dari larutan tembaga (II) sulfat dan rangkaian perjalanan elektronnya! (dengan elektroda tembaga)
Jawab:
Katoda (reduksi) : Cu2+  (aq) +  2e         Cu (s)
Anoda (oksidasi) : Cu (s)         Cu2+  + 2e
Reaksi sel    : Cu (s)       Cu(s)

e mengalir dari katode ke anoda
                              
2. Suatu benda yang terbuat dari logam dapat mengalami peristiwa korosi ketika dibiarkan dalam ruang terbuka dan akan membentuk oksida besi. Logam besi yang terkena air hujan yang mengandung senyawa SOx NOx juga mengalami hal yang sama, namun relatif lebih cepat. Untuk mengurangi efek tersebut dapat digunakan beberapa cara salah satunya dengan melapisi besi dengan seng, timah ataupun krom. Tuliskan penyebab proses pengkroposan tersebut dan prinsip dasar pencegahannya!
Jawab:
Penyebab umum :
Air, udara (O2), asam, larutan elektrolit
Prinsip dasar:
Kereaktifan logam, potensial reduksi. menghalangi adanya kontak dengan faktor penyebab dan perlindungan logam dengan penggunaan logam yang lebih reaktif. Adanya reaksi pergesaran. Logam yang lebih reaktif akan lebih dahulu bereaksi daripada logam tersebut.

Contoh Soal C6
1.  Jika diketahui potensial elektroda standar dari:
Ag+ (aq) + e - Ag(s) εo = +0,80 volt
In3+ (aq) + 3e- In(s) εo = -0,34 volt
Mg2+ (aq) + 2e- Mg(s) εo = -2,37 volt

Mn2+ (aq) + 2e- Mn(s) εo = -1,20 volt
Pasangan yang memberikan perbedaan potensial sebesar +1,14 volt adalah.....
a. Ag | Ag+ || Mn2+ | Mn
b. In | In3+ || Ag+ | Ag
c. Mn | Mn2+ || Mg2+ | Mg
d. Ag | Ag+ || In3+ | In
Jawaban : B

2.  Jika diketahui potensial elektroda standar dari:


Mg2+ + 2e- → Mg Eo = -2,34 volt
Cu2+ + 2e- → Cu Eo = +0,34 volt
Tentukan besar perbedaan potensial agar reaksi terjadi!
Jawaban  : 2,68

Kesimpulan
Pada dasarnya semua soal dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan berfikir kritis dan kreatif.  Yang dibutuhkan adalah keinginan dan komitmen untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir tinggi siswa.  Selain itu dibutuhkan juga keyakinan bahwa keterampilan di atas dapat diajarkan kepada semua siswa di setiap tingkatan.  Dengan keinginan, komitmen dan keyakinan ini, kita sebagai guru akan mencapai tujuan yang diharapkan.




Daftar Pustaka


PENILAIAN KERJA LABORATORIUM DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

A. Pembelajaran Kimia
Pembelajaran kimia tidak terlepas dari dua komponen pembelajaran yang saling berkaitan yaitu proses belajar dan proses mengajar. Belajar dalam paham
konstruktivistik adalah membangun pengetahuan dan keterampilan melalui fakta – fakta atau proposisi-proposisi yang dialami dalam kehidupan (Masnur Muslich,
2007:41). Ilmu kimia sebagai rumpun dari IPA merupakan ilmu yang diperoleh dan
dikembangkan berdasarkan eksperimen yang mencari jawaban apa, mengapa, dan
bagaimana gejala alam khususnya yang berkaitan dengan komposisi struktur dan
sifat, transformasi, dinamika, dan energetika zat (Depdiknas, 2003:1). Menurut Tresna Sastrawijaya (1988:13), pembelajaran kimia bertujuan memperoleh pemahaman tentang fakta dan konsep kimia, kemampuan mengenal dan memecahkan masalah, mempunyai ketrampilan dan penggunaan laboratorium, serta mempunyai sikap ilmiah yang dapat dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan pembelajaran Kimia dapat dicapai oleh siswa melalui penerapan berbagai pendekatan, antara lain pendekatan induktif , inkuiri ilmiah serta kontekstual. Proses inkuiri ilmiah bertujuan menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran kimia menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah (Depdiknas, 2003 : 459).

B. Performance Assessment  (Penilaian Kinerja)
Penilaian kinerja dapat menilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Penilaian kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa terdapat perbedaan antara “mengetahui bagaimana melakukan sesuatu”‘ dengan mampu secara nyata melakukan hal tersebut”. Seorang siswa yang mengetahui cara menggunakan mikroskop, belum tentu dapat mengoperasikan mikroskop tersebut dengan baik. Tujuan sekolah pada hakekatnya adalah membekali siswa dengan kemampuan nyata (the real world situation). Dengan demikian penilaian kinerja sangat penting artinya untuk memantau ketercapaian tujuan tersebut.
Penilaian kinerja dapat menliai proses dan produk pembelajaran. Pada pembelajaran kimia, penilaian kinerja lebih menekankan proses apabila dibandingkan dengan hasil. Penilaian proses secara langsung tentu lebih baik karena dapat memantau kemampuan siswa secara otentik. Namun seringkali penilaian proses secara langsung tersebut tidak dimungkinkan karena pengerjaan tugas siswa memerlukan waktu lama sehingga siswa harus mengerjakannya di luar jam pelajaran sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, penilaian terhadap proses dan usaha siswa dapat dilakukan terhadap produk. Misalnya untuk menilai kemampuan siswa membuat koloid maka guru kimia dapat melihat hasil produk koloid siswa. Melalui produk tersebut dapat dilihat kemampuan siswa dalam melakukan tahapan pembuatan koloid dan usahanya. Usaha dan kemajuan belajar mendapatkan penghargaan dalam penilaian kinerja. Hal tersebut menyebabkan penilaian kinerja memiliki keunggulan untuk pembelajaran kimia bila dibandingkan dengan tes tradisional yang berorientasi pada pencapaian hasil belajar.
Penilaian kinerja memiliki kekuatan apabila dibandingkan dengan penilaian tradisional. Kekuatan tersebut dapat dirangkum sebagai berikut: 1) siswa dapat mendemonstrasikan suatu proses, 2) proses yang didemontrasikan dapat diobservasi; 3) menyediakan evaluasi lebih lengkap dan alamiah untuk beberapa macam penalaran, kemampuan lisan, dan keteramplian – keterampilan fisik; 4) adanya kesepakatan antara guru dan siswa tentang kriteria penilaian dan tugas‑tugas yang akan dikerjakan; 5) menilai hasil pembelajaran dan keterampilan‑keterampilan yang kompleks; 7.) memberi motivasi yang besar bagi siswa; serta 8) mendorong aplikasi pembelajaran pada situasi kehidupan yang nyata. Selain memiliki kekuatan, penilaian kinerja memiliki juga beberapa keterbatasan yaitu; 1), sangat, menuntut waktu dan usaha; 2) pertimbangan (jadgement) dan penskoran sifatnya lebih subyektif; 3) lebih membebani guru; dan 4) mempunyai reliabilitas yang cenderung rendah. Meskipun penilaian kinerja memiliki keterbatasan, penilaian kinerja tetap perlu dilaksanakan pada pembelajaran kimia untuk mengatasi kelemahan dari tes dalam menilai siswa.
Perangkat penilaian kinerja sebaiknya dikembangkan melalui uji coba dalam pembelajaran. Guru kimia dapat menguji dan mengembangkain task (tugas) dan rubrik penilaian kinerja agar cocok dengan kondisi di kelasnya serta sesuai dengan kemampuan siswa. Ujicoba dapat dilakukan sambil guru mengajar di kelas. Hasil uji coba tersebut dapat dijadikan sebagai dasar perbaikan perangkat penilaian kinerja agar menjadi lebih feasible (dapat dikerjakan), lengkap dan aman dilakukan.
Beberapa pedoman untuk memeriksa kualitas perangkat penilaian kinerja dapat dikemukakan sebagai berikut: 1) esensial dan valid (dihubungkan dengan standar dan tujuan utama kurikulum); 2) otentik (problem dan proses mendekati atau sesuai dunia nyata); 3) Integratif (menuntut integrasi pengetahuan, konsep, sikap dan kebiasaan berpikir). 4.) pengukuran bersifat open ended (merangsang munculnya pertanyaan‑pertanyaan sepanjang pengerjaan tugas); 5) problem menarik bagi siswa dan memerlukan ketekunan; 6) mendorong siswa menjadi pemikir yang divergen dan bijaksana; 7).feasible (aktivitas aman bagi siswa dan dapat dikerjakan); 8) penilaian mengikuti keragaman gaya belajar siswa; 9) penggunaan kelompok kerja dapat merangsang proses berpikir individual; 10) akuntabilitas individual (meskipun digunakan kelompok kerja, kinerja individual harus mudah diobservasi); 11) terdapat sejumlah definisi (bila diperlukan) dan petunjuk yang jelas, 12) pengalaman siswa menjadi umpan balik untuk siklus perbaikan; 13) siswa memiliki beberapa format pilihan cara untuk mempresentasikan produk akhir, 14) kriteria kualitas jelas bagi siswa sejak awal kegiatan; 15) panduan penskoran harus mudah digunakan.
Metode-metode yang dapat digunakan untuk penilaian kinerja antara lain:                 1) observasi; 2) interview, 3) portofolio; 4) penilaian essay; 5) ujian praktek (practical examinatian); 6) paper; 7) penilaian proyek; 8), kuesioner, 9) daftar cek (checklist), 10) penilaian oleh teman (peer rating); I I) penilaian diskusi; dan 12) penilaian jurnal kerja ilmiah siswa.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penilaian kinerja (performance
assessment), diantaranya: (1) Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan
siswa untuk menunjukan kinerja dari suatu kompetensi. (2) Kelengkapan dan
ketetapan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut. (3) Kemampuankemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. (4) Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak sehingga semua yang ingin dinilai dapat dinilai (5) Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati (Mimin Haryati, 2007: 45-46).
Penilaian kinerja (performance assessment) dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pengamatan atau observasi terhadap berbagai konteks untuk menentukan tingkat ketercapaian kemampuan tertentu dari suatu kompetensi dasar. Guru dapat mengembangkan instrumen penilaian sesuai kebutuhan. Format  penilaian dapat disusun secara sederhana ataupun secara lengkap.
Dalam pembelajaran kimia, aspek psikomotor banyak dilakukan dalam bentuk kerja ilmiah di laboratorium. Atas dasar hal ini penilaian aspek psikomotor banyak dilakukan untuk kerja laboratorium. Pedoman observasi banyak dipakai untuk melakukan penilaian kegiatan eksperimen di laboratorium kimia. Contoh suatu
pedoman observasi pelaksanaan eksperimen kimia (kompetensi psikomotor)
ditunjukkan pada tabel 1 (Sukardjo dan Rr. Lis Permana Sari, 2009:45).

Tabel 1. Contoh Pedoman Observasi dalam Eksperimen Kimia
Judul Eksperimen : ………………………
Nama Peserta Didik : ………………….
No
Aspek-aspek yang diamati
Skala nilai
Skor
5
4
3
2
1
1
Cara menyiapkan alat

V



4
2
Cara memasang alat

V



4
3
Cara menyiapkan bahan
V




5
4
Ketepatan memilih indikator
V




5
5
Cara melakukan titrasi

V



4
6
Ketepatan membaca titik awal titrasi

V



4
7
Ketepatan membaca titik akhir titrasi

V



4
8
Kebenaran perhitungan
V




5

Skor Total
35


Penilaian kinerja (performance assessment) dapat juga dilakukan menggunakan check list (daftar cek). Ada bermacam-macam aspek yang dicantumkan dalam daftar cek, kemudian guru tinggal memberi tanda cek (v) pada tiap-tiap aspek tersebut sesuai dengan hasil pengamatannya. Kelemahannya adalah guru atau penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, ya-tidak. Siswa mendapatkan skor apabila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh pendidik/penilai. Akan tetapi jika tidak dapat diamati maka siswa tidak mendapat skor. Contoh daftar cek tentang kinerja peserta didik dalam presentasi kelas secara individual (kompetensi kognitif) dapat dilihat pada tabel 2 (Sukardjo dan Rr. Lis Permana Sari, 2009:46).
Berilah tanda (v) jika:
1) permasalahan yang dibahas terumuskan dengan jelas
2) ada relevansi uraian dengan permasalahan yang dibahas.
3) uraian luas dan mendalam
4) uraian jelas dan tidak salah konsep
5) uraian disampaikan dengan lancar
6) sanggahan/argumentasi logis dan kuat
7) bahasa baik dan benar

Tabel 2. Contoh Daftar Cek Presentasi Kelas
No
Nama Peserta Didik
Aspek yang Dinilai
1
2
3
4
5
6
7
Σ
1
Abu      
V

V
V
V
V
V
6
2
Amin       
V
V
V
V
V
V
V
7
3
Achmad      

V
V
V
V
V
V
6
4
Basuki     
V

V
V
V
V

5
5
Candra      
V
V
V
V
V
V
V
7
6
Dst…









Skor Total
4
3
5
5
5
5
4
31

Dalam daftar cek hanya dapat dicatat ada tidaknya variabel tingkah laku tertentu, sedangkan dalam skala lajuan (rating scale) gejala-gejala yang akan diobservasi disusun dalam tingkatan-tingkatan yang telah ditentukan. Skala lajuan tidak hanya menilai secara mutlak ada atau tidaknya variabel tertentu, tetapi lebih jauh dapat dinilai bagaimana intensitas gejalanya. Contoh skala lajuan tentang partisipasi peserta didik dalam mata pelajaran kimia (kompetensi afektif) ditunjukkan pada tabel 3 (Sukardjo dan Rr. Lis Permana Sari, 2009:47).

Tabel 3. Contoh Skala Lajuan Partisipasi Peserta Didik dalam Mata Pelajaran Kimia
Nama Peserta didik :
No

Pernyataan/Indikator

Sangat
tinggi
Tinggi

Sedang

Rendah

Sangat
rendah
Σ

1
Kehadiran di kelas

V



4
2
Aktivitas di kelas

V



4
3
Ketepatan waktu
V




5
4
Mengumpulkan tugas
V




5
5
Kerapihan buku bacaan

V



5
6
Partisipasi dalam praktikum

V



4
7
Kerapihan laporan praktikum

V



4
8
Partisipasi kegiatan kelompok
V




5

Skor total
15
20



35


DAFTAR PUSTAKA
Sari, Rr. Lis Permana. Pengembangan Instrumen Performance Assessment Sebagai Bentuk Penilaian Berkarakter Kimia. Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY